SINGKAWANG, KITA – Dampak wabah pandemi Covid-19 dirasakan seluruh lini masyarakat. Pemerintah yang berupaya menekan penyebarannya sampai harus menggaungkan Physical Distancing. Pembatasan ini diaplikasikan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah dilarangnya warga untuk berkerumun.

Akibatnya, lokasi-lokasi perdagangan kini harus menerapkan beli untuk dibawa pulang kepada konsumennya.
Tentu hal ini berdampak besar, terutama kepada pedagang makanan dan minuman, Agus misalnya, pedagang kecil yang menjual nasi dan mi tiaw goreng di pusat kota atau tepatnya di belakang kelenteng Tri Dharma Bumiraya ini mengaku omsetnya jauh menurun.
Hari-hari biasa sebelum Covid-19 menyerang, dalam satu malam ia mampu menjual hingga lebih 200 piring nasi goreng dan mi tiaw.
“Kini jauh turun, lebih 50 persen turunnya,” kata Agus pada awal April 2020.
Agus termasuk pedagang yang paham dan peduli akan informasi Covid-19, gerobaknya ia pasangi banner bertuliskan “MAAF UNTUK SEMENTARA TIDAK MELAYANI MAKAN DITEMPAT”, ia juga menyediakan sabun dan air bagi pelanggan yang ingin mencuci tangan sembari menunggu pesanannya dimasak.
“Mau bagaimana lagi karena kesehatan memang yang paling utama, yang namanya rejeki sudah ada yang mengatur, yang penting saya berdoa agar wabah ini segera berakhir,” pungkas Agus.
Begitu juga Ewin, pria yang menjual minuman di Belakang Kelenteng ini juga mengaku serupa. Pendapatannya turun drastis. “ Bisa 60 sampai 80 persen turunnya, mudah-mudahan cepat selesai wabah ini,” kata Ewin yang sengaja tidak menyediakan banyak kursi di sekitar gerobak kopinya, hanya satu dua kursi untuk mereka yang menanti kopinya dibungkus.
Redi, salah satu langganan nasis goreng Agus mengaku suasana Belakang Pekong kini telah jauh berbeda, ia yang ditemui saat memesan nasi goreng mengaku prihatin sekaligus sangat memahami anjuran pemerintah . ” Sekarang memang suasana serba sulit, usaha saya sedang sulit begitu juga dengan abang-abang pedagang, tapi kita memang harus tetap kuat melewati masa-masa wabah ini,” kata Redi.
Biasanya, kawasan dibelakang kelenteng atau yang biasa disebut muda-mudi Singkawang dengan istilah “Belakang Pekong” ini selalu ramai, puluhan kursi digelar oleh pedagang, seniman jalanan ataupun hingga pengamen karbitan tidak putus mendendangkan lagu menghibur pengunjung. Kini sunyi.



























