SINGKAWANG KITA- Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie pada 15 Februari kemarin menjalani suntikan vaksin covid-19 perdananya. Pro kontra kemudian muncul di media sosial mengingat Tjhai Chui Mie merupakan penyintas covid-19.
Kurangnya membaca informasi terkini membuat sejumlah pengguna akun media sosial terutama facebook yang mempertanyakan vaksinasi ini.
Padahal Walikota berusaha memberikan contoh dan teladan serta sebagai bentuk pemeri rasa aman kepada masyarakatnya atas vaksin yang diberikan, yang perlu diingat selain Tjhai Chui Mie dan keluarga juga masih banyak warga penyintas covid-19 lainnya di Kota Singkawang, sehingga bisa dikatakan keputusan walikota untuk divaksin bukan hanya bentuk edukasi kepada masyarakat banyak namun juga bagi para penyintas.
“Jadi lucu kemudian ketika kita membuka facebook, nampak sekali literasi yang rendah membuat jempol saudara-saudara kita selaku netizen yang budiman justru mempertontonkan kedangkalan nalar mereka,” ujar seorang penggiat media sosial, Syamsul.
Adapun berdasarkan pencarian singkawangkita.com informasi mengenai vaksinasi penyintas telah diunggah oleh website kementerian kesehatan sejak 12 februari kemarin. Berikut unggahan serta linknya.
Jakarta, 12 Februari 2021
Kementerian Kesehatan RI mengirimkan surat edaran (SE) kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota terkait pelaksanaan vaksinasi COVID-19. Dalam surat edaran tersebut tercantum salah satunya pelaksanaan vaksinasi bagi kelompok komorbid dengan ketentuan yang harus dipenuhi.
Surat edaran nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid dan Penyintas COVID-19, serta Sasaran Tunda itu telah ditandatangani pada Kamis (11/2) oleh Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes Dr.dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS.
“Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional telah menyampaikan kajian bahwa vaksinasi COVID-19 dapat diberikan pada kelompok usia 60 tahun keatas, komorbid, penyintas COVID-19 dan Ibu menyusui dengan terlebih dahulu dilakukan anamnesa tambahan,” kata dr. Maxi.
Pelaksanaan pemberian vaksinasi harus tetap mengikuti petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi COVID-19, antara lain bagi kelompok Lansia, pemberian vaksinasi pada kelompok usia 60 tahun ke atas diberikan 2 dosis dengan interval pemberian 28 hari (0 dan 28).
Sementara untuk kelompok Komorbid, dalam hal ini Hipertensi, dapat divaksinasi kecuali jika tekanan darahnya di atas 180/110 MmHg, dan pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan sebelum meja skrining. Bagi kelompok komorbid dengan diabetes dapat divaksinasi sepanjang belum ada komplikasi akut.
Bagi kelompok komorbid penyintas kanker dapat tetap diberikan vaksin. Selain itu penyintas COVID-19 dapat divaksinasi jika sudah lebih dari 3 bulan. Begitupun ibu menyusui dapat juga diberikan vaksinasi.
Seluruh Pos Pelayanan Vaksinasi harus dilengkapi kit anafilaksis dan berada di bawah tanggungjawab Puskemas atau rumah sakit .
Selanjutnya untuk kelompok sasaran tunda akan di berikan informasi agar datang kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperoleh vaksinasi COVID-19.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka diharapkan kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia dapat segera melakukan tindakan korektif yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kelancaran pelaksanaan vaksinasi dan percepatan peningkatan cakupan vaksinasi COVID-19.
Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id (D2)
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
drg. Widyawati, MKM



























