SINGKAWANGKITA– RSUD Abdul Aziz semakin berbenah, kini pasien dari Kalimantan Barat tidak lagi mesti harus berangkat ke Malaysia untuk sekadar mendapatkan penanganan dengan tindakan berupa Endoskocopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP).
“Selain fasilitas peralatan, kita juga menyiapkan tenaga medisnya. Juga standar pelayanan yang ramah kepada pasien itu merupakan tekad kita bersama untuk diterapkan sebaik mungkin,” Kata Direktur RSUD Abdul Aziz, Achmad Hardin (2/3/2023).
Hardin mengakui program unggulan RSUD Abdul Aziz semata-mata untuk kemudahan masyarakat atau pasien. Serta mendukung upaya program visi-misi pemerintah kota selaku pemilik RSUD untuk menyediakan akses fasilitas kesehatan yang handal untuk warganya.
“Program ini akan menjadi program unggulan RSUD Abdul Aziz Singkawang. Semoga bisa berjalan dengan lancar agar kedepan bisa sering dilakukan untuk menolong masyarakat Singkawang atau lebih luasnya warga Kalbar yang membutuhkan,” katanya.
Dengan begitu, masyarakat tidak perlu berobat jauh-jauh sampai ke Jakarta bahkan ke Luar Negeri seperti Malaysia.
“Karena akan kita manfaatkan semaksimal mungkin sarana dan prasarana yang ada di RSUD Abdul.Aziz Singkawang untuk menolong masyarakat,” ungkapnya.
Sedikitnya ada enam pasien RSUD Abdul Aziz Singkawang yang mendapatkan tindakan ERCP tanpa menjalani operasi terbuka. Dimana dua pasien diantaranya berasal dari Kubu Raya dan Natuna Kepulauan Riau.
Dokter Spesialis Bedah Saluran Cerna (Digestif) RSUD Abdul Aziz Singkawang, dr Zainul Na’im mengatakan, kegiatan ini merupakan unit layanan pengembangan rumah sakit, dimana sebelumnya RSUD Abdul Aziz Singkawang sudah melakukan pengembangan diagnostik Endoscopic yaitu pemeriksaan saluran cerna seperti lambung, usus dan lain-lain.
“Jadi dengan kamera fiber optic kita bisa melihat di dalamnya,” katanya.
Selama ini, pihaknya hanya bisa mendiagnosis untuk mengetahui penyakit pasien. Sehingga untuk memperluas layanan tersebut, maka dibuatlah tindakan ERCP (Endoskocopic Retrograde Cholangiopancreatography) agar bisa meiihat sampai ke saluran empedu.
Menurutnya, banyak pasien-pasien yang harus berobat ke Malaysia untuk dilakukan tindakan seperti ini.
“Contohnya terjadi sumbatan di saluran empedu yang dikarenakan oleh batu atau tumor. Dengan tehnik ERCP maka pembedahan secara terbuka bisa dikurangi frekuensinya khususnya kepada pasien yang cocok untuk dilakukan tehnik seperti ini,” ujarnya.
Pada umumnya, teknik ERCP sama dengan operasi. Bedanya, ERCP tidak melakukan pembedahan atau membuka rongga perut pasien. Apabila berhasil, maka operasi terbuka bisa jadi tidak dilakukan.
Pada kesempatan kali ini, Zainul ditemani oleh seorang dokter spesialis yang bertugas di RSUD Syaiful Anwar Malang, Jawa Timur.
“Bahkan tindakan ini juga masuk ke dalam tanggungan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.



























