PONTIANAK, KITA – Menyikapi klaim temuan obat corona oleh seorang mantan asisten apoteker yang beredar di media massa dan jejaring media sosial di Kota Pontianak, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson meminta agar jangan gegabah. Lantaran ada prosedur dan penelitian yang harus dilewati guna menunjang kesahihan dan keterujian obat tersebut. Terlebih klaim, tersebut berpotensi menimbulkan kegalauan ditengah masyarakat.
Apalagi klaim tersebut hanya dengan bukti yang katanya mengobati beberapa orang dengan status ODP atau Orang Dalam Pemantauan.
“Tidak boleh kita mengklaim telah menemukan OBAT CORONA hanya dengan bukti yang katanya sudah bisa mengobati beberapa orang ODP. ODP kan belum tentu Kasus Konfirmasi COVID-19. PDP saja belum tentu Kasus Konfirmasi COVID-19. “ kata Harisson dalam jejaring whatsapp group bersama awak media, Minggu 5 April 2020.
Kata Harisson, tentu nya seperti kita ketahui dalam dunia ilmiah ilmu kedokteran bahwa untuk pembuktian suatu zat mempunyai efek terapi tertentu penelitian nya akan sangat panjang, mulai dari penelitian secara invitro maupun invivo.
“Selanjutnya zat tersebut akan diuji coba dulu terhadap hewan: tikus, kelinci, kera dan lain-lain yang kita tulari dengan virus atau bakteri tertentu, sampai percobaan ke tahap akhir yaitu pada manusia yang menjadi relawan baik yang tidak terinfeksi maupun yang terinfeksi virus atau bakteri tertentu yang sedang kita teliti.” ujarnya
Dalam penelitian pun akan ada metode pembandingan atau komparasi misalnya antara efek atau pengaruh pada orang yang terinfeksi yang diberikan obat atau zat ini dan efek pada orang yang terinfeksi tapi tidak diberikan zat yang sedang diteliti.
“Perbandingan ini akan membuktikan bahwa apakah benar obat itu dapat memberikan efek terapi atau malah orang yang tidak diberi obat yang sedang ditelitipun ternyata bisa sembuh. Karena COVID-19 adalah self limiting disease yang artinya pasien dapat sembuh dengan sendirinya asal daya tahan tubuh nya kuat. “ kata mantan Kadiskes Kapuas Hulu ini.
Penelitian ini akan sangat panjang, termasuk harus diteliti dalam dosis berapa obat tersebut tidak mempunyai efek, dalam dosis berapa obat tersebut mempunyai efek terapi dan dalam dosis berapa obat tersebut justru meracuni.
“Saya mendukung peneliti-peneliti, ilmuwan-ilmuwan Kalbar untuk melakukan penelitian terhadap penyakit ini, namun gunakan metode penelitian secara ilmiah, agar hasil memang benar-benar sudah teruji dan sahih.” katanya
Ia juga menekankan agar Jangan buru-buru melempar ke masyarakat terhadap hasil yang belum terbukti secara ilmiah, karena hanya akan menimbulkan kegalauan ditengah masyarakat.



























